(22 Januari 2012)
Entah kenapa tak ada perasaan khawatir di hati ini. Tak muncul pula rasa deg-degan seperti yang dirasakan yang lain. Hanya ada perasaan… umm… biasa. Seolah memang tak akan terjadi apa-apa, semua seperti biasa dan memang harus dijalani dengan biasa. Dan begitulah, terjadi dengan biasa saja. Jantung berdetak sesuai irama dan adrenalin tak meningkat dengan tajam. Diwarnai tawa yang terurai, mencoba mencairkan suasana hati yang lain, agar ikut merasakan perasaan biasa yang ku alami. Mungkin belum sempurna, hingga yang lain harus merasakan ketegangan di saat aku berkemuka. Mungkin bagiku cukup sempurna, sampai-sampai tak tumbuh setitikpun rasa takut di hati. Tapi semoga yang terjadi adalah di tengah-tengah. Sempurna, dan akan berjalan dengan sempurna sesuai harapan. Amin.
***
(28 Januari 2012)
Berbulan-bulan tak pernah melihatnya. Ada perasaan kehilangan, ada perasaan ingin bertemu, ada perasaan ingin bertukar cerita. “Selama ini kemana saja? dengan siapa saja? sehatkah?” Ingin mendengar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Akan ku luangkan waktu untuk menjadi pendengar cerita-cerita hebatmu. Tentang berteman dengan alam, tentang berbaur dengan sesama, dan tentang berusaha menaklukan diri sendiri. Ingin ku pelajari semua yang telah kau temui dan pelajari, hingga nanti kita sama-sama paham, dan membayangkan seandainya kamu, dengan mengajak aku, berada di puncak tertinggi pulau Jawa.
***
(1 Februari 2012)
Rahasianya. Yang kita tidak cukup perlu untuk mengetahui lebih dalam. Hanya perlu tahu dan meyakini, bahwa itu memang ada. Yang harus dilakukan hanya bersiap-siap. Siapa yang ingin berdamai dengan nasib? Maka berjalanlah sesuai alurnya. Siapa pula yang ingin terseok-seok meniti hari? Dan berujung pada rahasianya yang bagi sebagian orang menyakitkan? Tapi bagi orang yang berjalan di alurnya, adalah memang sudah dituliskan begitu. Jadi mereka tak akan menginterupsi, apalagi mencoba mengelak. Penyesalan memang selalu di akhir, jadi sebelum kita sampai di titik akhir kehidupan kita, sepatutnya kita terjaga dan mulai menyelusuri alur kita kembali. Jangan lagi tersesat. Karena tak akan ada jalan kembali saat kita sudah berhenti.
***
(7 Februari 2012)
Sesuatu menimpaku. Menggoyangkan keyakinanku akan apa yang mulai ku percayai. Gentar. Takut. Tak mampu berkata-kata. Menangis pun rasanya tak ada daya. Bingung. Gelisah. Ini salahku. Seratus persen kealpaanku. Dan yang ku lakukan saat hal itu tiba-tiba terjadi adalah sedetik melengos ke belakang, lalu kemudian menghadap lagi ke depan. Melanjutkan perjalanan seolah tak terjadi apa-apa. Padahal di belakang sana tergeletak jiwa yang menahan sakit, mungkin juga menahan hasrat untuk memaki aku yang tak berjiwa. Rasanya ingin cepat sampai ke tempat aku mengadu. Rasanya ingin sembunyi, menenangkan hati yang tak jua berhenti desir takutnya. Menangis tak ada guna. Tak ada yang keluar dari kelopakku. Debar jantungku pun tak lagi sama. Tak lagi berirama, tapi seperti genderang yang sedetik lagi pecah. Aku jahat. Aku tak punya hati. Memang.
***
(10 Februari 2012)
Berbulan-bulan tak bersua akhirnya kita dipertemukan. Bukan nyata, hanya melalui mimpi. Pernah dengar ini nggak? “Saat kita benar-benar merindukan seseorang, maka ia akan muncul di mimpi kita.” Mungkin iya. Sebegitu rindunya aku denganmu. Hingga tanpa sadar aku membawa pikirku ke alam bawah sadarku. Seolah nyata. Kamu seolah oase di tengah gurun pasir kala terik memanggang. Memberi kesegaran pada dahagaku yang tak kunjung tertuntaskan. Puas, lega, bahagia. Berbincang denganmu, walau hanya dalam alam tak sadarku, telah berhasil mengembangkan senyum di wajahku. Aku bahagia. Tapi akan lebih membahagiakan bila kamu benar-benar hadir dalam nyataku. Jadi, cepatlah kembali.